Sebatas Mimpi Namun Berarti #1

Pagi yang cerah tanpa sedikit pun mendung menghiasi awan biru dan kicauan burung bersenandung ria. Kala itu Cita berjalan santai menuju kampus yang tidak jauh dari rumahnya. Jarak antara rumah dan kampusnya sekitar 15 menit. Tanpa sengaja cita bertemu kedua sehabatnya yaitu Tia dan Deah. Bila mereka berkumpul bersama dimanapun tempatnya pasti situasi disekitar begitu rame seakan-akan dunia ini hanya didiami mereka bertiga.

     “pagi citaaaaa……!!!!!!”teriak Tia dan Deah penuh semangat 45 ke Cita yang berjalan sedikit melamun. Cita pun sedikit kaget akan teriakan kedua temannya itu.

     “Resek ya kalian berdua….”ungkap cita dengan sedikit cutek, “pagi-pagi udah bikin orang jantungan. Gimana kalo gue mati berdiri disini? Kevin Zeger kan pasti merana karena ditinggal oleh wanita yang cantik, manis, baik hati, pengertian dan berbudi pekerti…. ” cerocos Cita yang tidak masuk akal.

     “Sadar dong neng…sadar…pagi-pagi udah berkhayal yang ga masuk akal. Jawab Tia yang memotong omongan Cita sambil menyentuh kening cita dengan tangannya (seperti ibu yang memeriksa anaknya bila kena demam).

     Cita pun berhenti sejenak dan memandang wajah kedua temannya itu dengan sedikit amarah.

          “Kalian itu mbok yoo ngasih dukungan sedikit napa…!!! Mana ga minta maaf karena tadi udah ngagetin aku.” Omel cita sambil melanjutkan berjalannya.

     “Dukungan apaaa??? Percuma…lagian nggak bakalan jadi kenyataan. Sadar dong neng, Kevin itu seorang bintang dan kamu Cuma manusia biasa. Lagian….” Sebelum tia menyelesaikan kalimatnya, deah langsung memotong.

     “udah dech…kalian berdua tuh selalu aja ribut karena masalah sepele, dewasa dikit kayak aku napa.” Ungkap Deah yang memuji dirinya sendiri.

     Cita dan Tia saling memandang kemudian sedikit tersenyum dan akhirnya….

     “Huahahaha….” Cita dan Tia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Deah yang merasa dirinya dewasa. Dan Cita pun lupa akan kata-kata Tia yang bikin hatinya sedikit marah.

     “please dech dee…, emang ada orang yang berfikir dewasa ngambek gara-gara hal yang sepele. Kata Cita sambil nahan tawanya.

     “kalian kok gitu seeh, aku kan ga childish banget. Kalian kejaaaam….” Jawab Deah dengan muka masam dan cemberut kayak anak kecil yang diambil permennya.

     “mulai dech…mulai dech…pasang wajah manja n’ ngambek. Kayak gitu kok dewasa, yang ada juga balita. Hehehe…” ledek Tia.

     “udah lah ga usah diterusin.” Ungkap Cita sedikit bijaksana.

     Tanpa terasa mereka berdua sudah sampai di depan kampus. Mereka kuliah di universitas negeri dan mengambil jurusan S1 psikologi. Sekarang mereka semester 5. Akhirnya tibalah mereka memasuki kelas dan mencari tempat duduk.

     “pagi-pagi kuliah dosen yang amat sangat kejam, tidak berperikemanusiaan, dan raja tega” keluh Tia yang menggambarkan dosennya seperti makhluk yang mengerikan.

     “kamu salah, dosen kita ini bukan kejam melainkan baik hati dan perhatian ama kita. Gimana tidak! waktu aku kebingungan nyari materi tugas, bu mike malah nawarin aku bukunya apalagi waktu dirumahnya aku dikasih berbagai macam makanan, mana makanannya enak-enak” ucap Deah dengan lugu.

     “Aku setuju ama Deah. Bu Mike itu sebenarnya nggak kejem-kejem amat, beliau Cuma memiliki kedisiplinan yang tinggi aja. Dan kita ketahui kedisiplinan itu banyak dibenci oleh mahasiswa sekarang. Khususnya mahasiswa seperti kamu yang ngertinya Cuma soal dandan doang.” Ungkap Cita ke arah Tia sedangkan Tia sendiri sedang sibuk ngaca sambil mbenahi make up diwajahnya dan bersikap cuek bebek dengan omongan Cita.

     Ketiga cewek tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda dan perbedaan itu tidak membuat mereka saling membenci atau mengejek satu sama lain malahan dengan adanya perbedaan tersebut mereka bisa saling mengisi kekurangan masing-masing.

     “Ehhhh….ngomong-ngomong sampai jam segini bu mike kenapa belum datang ya? Padahal orang itu kan amat sangat menghagai waktu.” Kata deah sambil melihat jam tangannya.

     “Bener juga kamu dee, nggak biasanya bu mike telat begini. Tia tolong dong kamu liat ke ruang dosen apakah bu mike disana karena keasyikan ngobrol ama dosen laen, kita sebagai mahasiswanya dilupain.” suruh Cita.

     “enak aja nyuruh-nyuruh orang, kamu tau sendiri kalo gue tuh anti banget dengan namanya bu mike lagian aku kan bukan ketua kelas. Kenapa kamu nggak nyuruh Koko aja sih? Dia kan ketua kelas.” Jawab Tia dengan nada sewot dan masih juga sibuk dengan make upnya.

     “iya…iya…ga usah nekuk muka kayak gitu. Bisa-bisa ntar muka loe keluar keriput karena banyak marah-marah” ungkap cita sambil menatap wajah Tia dengan seksama dan tia pun menatap heran  dengan tingkah temannya itu. “kenapa sih ngliatin aku kayak gitu? Emang ada yang aneh dengan wajah ku???” ungkap tia dengan nada ketakutan dan langsung merhatiin wajahnya di kaca bedak yang dia pegang.

     “ Nggak kok…kayaknya tadi aku ngeliat ada kerutan di pelipis mata kamu sebelah kiri.” Guman Cita sambil menunjuk pelipis kiri kemudian berdiri menuju tempat duduk koko yang ga jauh dari tempat duduknya.

. “Apaaaaa….!!!! Ga mungkin….ga mungkin… padahal aku udah facial dua ato tiga kali sebulan.” Tia memperhatiakan setiap sudut wajahnya secara mendetail. Di sisi lain cita merayu koko untuk memanggil beliau sebab koko pun sebenarnya enggan untuk pergi. Akhirnya cita berhasil merayu koko dan pergilah dia ke ruang dosen, sedangkan Tia masih sibuk dengan keriputnya dan Deah disuruh mbantu nemuin keriputnya.

     “Mana sih keriputnya? Dari tadi kok ga ketemu-ketemu. Cita…kamu bohong kan??? Trus ini Cuma becanda kan???”ungkap Tia ketakutan jika di mukanya ada keriputnya. Sedangkan cita sibuk ngobrol dengan josh teman koko dan tidak mendengar ucapan Tia.

     “Dee…yang bener nyarinya!!”bentak tia

     “Ini juga dicari…ga usah  pake mbentak segala.”jawab Deah lugu.

     “abis…kamu kayak nggak niat gitu nyarinya. Aku kan nggak mau kayak nenek peot yang banyak keriputnya. Cita mana sih… kok ga jawab pertanyaan aku tadi.” Berhenti berkaca kemudian pandangannya keseluruh ruangan untuk mencari keberadaan Cita. “Citaaaaa….!!!!” Teriak Tia kenceng banget sambil berdiri menghadap ke arah Cita. Mahasiswa laen berhenti ngobrol dan memandang ke arah Tia. Tia pun sedikit malu dengan teriakannya tadi. Dan cita pun sedikit kaget dengan teriakan Tia yang begitu histeris.

     “Apaan sih…” berbalik badan mengarah Tia. “teriak-teriak segala. Lagian aku kan nggak tuli.” Tambah Cita dengan marah.

     Tia berjalan  mendekati Cita “kamu gimana sich…katanya tadi ada kerutan di pelipis mataku sebelah kiri. Setelah aku amati ama deah ternyata nggak ada. kamu. Kamu Cuma becanda kan???”

     Cita pun dengan santai menjawab “Emang…aku tadi Cuma  becanda kok.”

     Tia pun kaget dengan jawaban temannya. Sehingga tampak dengan jelas, kemarahan telah muncul di seluruh wajahnya. “Apaaa….!!!! Jadi kamu tadi Cuma jahilin aku doang. Citaaa…kamu…”

     Sebelum Tia mengeluarkan pukulan mautnya, cita bergegas lari dan menghindar sejauh mungkin. “cita…Awas kamu yaa…tega banget ngerjaiin temen sendiri.” Kata Tia sambil berlari mengejar cita dan cita sendiri lari sejauh mungkin dan jangan sampai dia ditangkap oleh Tia. Sedangkan Deah Cuma bisa memperhatikan dan tersenyum geli terhadap temannya  yang berkejaran didalam kelas.

     “cita, sini kamu…dasar manusia usil”

     “Ogah lha yauw…sapa suruh jadi cewek kegenitan banget.” Balas cita sambil ngledek temannya dan terus berlari.

     Mereka tetap aja berlari didalam kelas sehingga situasi didalam makin gaduh dan tak terkendali. Mahasiswa yang lain juga ikut memberikan semangat dan dukungan masing-masing dari mereka. Kemudian tiba-tiba koko datang dari ruang dosen sambil berteriak.

     “Guys…..Bu Mike hari ini absen nggak masuuk…” teriak koko sekencengnya.

     Mendengar teriakan koko, seluruh kelas menjadi terdiam dan sunyi senyap seperti di pemakaman. Tetapi tak lama kemudian…

     “Horeeeee…….”teriak mahasiswa di dalam kelas kegirangan.

     Dua orang yang berkejaran tadi berubah saling berpelukan satu sama lain tak lupa jingkrak-jingkarak kegirangan dan tidak ingat tentang hal tadi.

     “sorry ya aku tadi udah njahilin kamu” ungkap cita sambil melepaskan pelukannya.

     “sama-sama, aku juga minta maap.” Balas Tia. Kemudian deah pun datang mendekat ke arah mereka.

     “Hei…bu mike kan nggak ada. trus gimana kalo kita ke kantin aja soalnya  perutku lapar banget sebab aku tadi ga sempat sarapan pagi.” Kata deah dengan memegangi perutnya.

     “Boleh juga tuh…yuuuk…” jawab Cita dan Tia dengan kompak. Berjalanlah mereka menuju kantin kampus yang jauh dari kelas mereka. Ternyata di kantin tersebut udah penuh dengan mahasiswa lain. Mereka terheran-heran dengan keadan kala itu karena tidak biasanya kantin kampus rame di pagi hari.

     “Gila…pagi-pagi kantin dah penuh” cita mengeluh.

     Deah melihat disekelilingnya dan berharap masih ada tempat yang masih kosong. Akhirnya di amelihat tempat kosong di pojokan.

     “kita duduk di pojokan sana aja deh” pinta deah ke Cita dan Tia.

     Duduklah mereka bertiga disana. kemudian datanglah sosok seorang cowok yang postur tubuhnya tegap layaknya seorang pemain basket dimana tangannya memegang bulpon dan blok note.

     “Hai girls…mau pesen apa neeh???” Tanya Nate dengan tersenyum manis. Nate adalah anak dari ibu kantin, umurnya sekitar 22an, kuliah di salah satu universitas swasta dan mengambil jurusan hukum. Katanya sih Nate pingin banget jadi pengacara yang handal di negeri ini. Tak lupa dia juga seorang pemain basket di kampusnya. Bila nggak ada kuliah pagi biasanya dia membantu ibunya.

     Melihat Nate yang tersenyum manis, Tia  langsung keluar sikap kegenitannya. “hai juga…boleh nggak pesen kamu????” ucap Tia dengan sedikit menggoda plus genit. Nate pun Cuma bisa tersenyum akan perkataan Tia. Mendengarkan perkataan temannya tadi deah lansung menyengol siku Tia dengan tangannya.

     “Sorry ya nate, Tia tadi Cuma becanda kok.” Ungkap Cita.

     “Sapa bilang tadi aku becanda, aku serius kok…”

     langsung aja Cita membungkam mulut Tia sebelum ngomong hal yang ngawur. Namun Tia tetep aja ngomel yang ga jelas ngomong apa dalam bungkaman tangan Cita.

     “nggak papa kok…nyantai aja lagi”ungkap nate, “trus kalian mau pesen apa?”

     “aku pesen sandwich dan juice jeruk” pinta deah.

     “aku pesen teh hangat aja deh” ungkap cita   sambil membolak-balikkan  daftar menu. Sedangkan Tia hanya terdiam sambil memeandang wajah nate yang sibuk mencatat pesanan makanan dan minuman temannya.

     “sandwich, juice jeruk dan teh hangat.”nate mengulang pesanan mereka “udah…itu aja yang kalian pesan?? Trus tia nggak pesen apa-apa?”Tanya nate. Tia tetep aja diam menatap wajah nate yang cakep dan tidak mendengar perkataannya.

     “Halloooo…Tia…” Deah melambai-lambaikan tangann di mukanya namun tetap aja dia merhatiin nate.

      “Tia….!” Bentak cita di telinga tia dengan menyengol bahunya. Tia pun seakan terhentak dari mimpi indahnya dan tampak kebingungan.

     “Gimana sih kamu ini? Kamu mau pesen apa?” tambah Cita sedikit sewot.

     “ohhh maap deh, ehhmm…apa ya…aku pesen…”sambil membolak-balikkan daftar menu, “aku pesen roti bakar aja deh.”

     “trus minumnya apa.” Kata nate

     “aku minum kamu aja dech” jawab Tia genit”

     “Tiaaaa….…” teriak Deah dan cita.

      “hehehe…maap, aku juice jeruk juga” ungkap tia.

     “ya udah kalo gitu, bentar yaa aku ambilin pesanan kalian” nate berbalik arah dan pergi meninggalkan mereka.

     “kamu gilingan yaa…ngaco banget kalo  ngomong. Gimana kalo nate nganggep serius semua omongan kamu tadi…”ungkap cita dengan tegas.

     “lho…bagus dong…setidaknya nate tahu kalo gue suka ama dia.” Tia mencoba membela diri.

     “bagus pale lho peyang…udah ahh…capek ngomong ama orang kayak kamu.” Wajah cita terlihat kesal dengan tingkah laku temannya itu.

     Tak lama kemudian pesanan mereka datang tetapi yang membawa pesanan mereka bukan nate melainkan orang laen.

     “ini pesanan kalian”ungkap bu sandra wanita setengah baya tersebut.

     “Makasih, tapi kenapa ibu yang membawakan pesanan kami. Terus…nate kemana?”Tanya Tia bak detektif.

     “ohhh…tadi ada telp dari temannya trus dia disuruh cepat-cepat ke kampus untuk persiapan basket besok. Kan besok universitas kalian tanding ama universitas nate?” bu Sandra membagikan pesanan mereka.

     “bukannya besok cita juga ikut pertandingan basket?” Tanya bu Sandra.

     “iya bu” jawab Cita

     “trus gimana persiapannya?? Jangan kuatir…besok ibu pasti dukung kamu, di jamin 100%.” Kata bu Sandra dengan bercanda.

     “Ibu kok dukung cita sih, kan seharusnya dukung anak sendiri” celetuk deah.

     “iya bu, nate kan juga butuh support dari ibu” tambah tia.

     “basket cowoknya, otomatis aku dukung anakku sendiri tapi kalo basket cewek aku dukung cita. Udah ya, ibu nggak bisa ngobrol lama soalnya masih ada kerjaan dibelakang.” Bu Sandra langsung pergi dari hadapan mereka.

     “bu Sandra bener-bener perhatian ya sama kamu. Wah…jangan-jangan itu suatu pertanda bahwa kamu bakal di jodohin ama nate…”celetuk deah polos sambil menuangkan saus tomat di sandwichnya.

     “Deah…!!!” Cita hampir tersedak karena omongan deah. “kamu ngacok deh…ya ga mungkin lah. Punya perasaan ama nate aja aku ga punya. Lagian lho pastinya nate udah punya cewek di kampusnya.”

     “emang kamu tahu kalo nate emang bener-bener udah punya cewek di kampusnya??sok teu luuu…” ungkap tia sambil memotong roti bakarnya.

     “yaaaaa….aku nggak tau dengan pasti apakah nate udah punya cewek ato belum. Tapi kan seorang nate yang cakep, manis, ramah and pinter maen basket otomatis banyak cewek yang jatuh cinta ama dia.” Ungkap cita yang secara tidak langsung muji Nate.

     “Uhhhh…cakep, manis, ramah and pinter maen basket. Trus apa lagi?/” Tia dan deah kompak.

     “apaaan sih kalian…aku kasih tau yaa…cowok yang ada dipikiranku itu cuman Kevin Zegers nggak ada yang lain TITIK!!” Ungkap Cita dengan nada sewot. “lagian nate kan gebetannya Tia dan aku nggak mau dikatain ngambil gebetan temen sendiri.”

     “yeee…sapa yang gebet nate. Emang akui selama ini aku selalu menatap nate penuh dengan perasaan tapi kan itu belum tentu aku jatuh cita ato pingin jadi ceweknya.” Sambil menengguk juice jeruk.

     “tuh kan…tia aja udah bilang bahwa nggak serius ama nate, udah gebet aja tuh anak.”

     “Deah…kok kamu ikut-ikutan Tia sich. Kamu dibayar berapa ama dia? ungkap cita dengan marah-marah. “tau ga…Aku capek ngomongin ini terus.” Cita beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke kasir bayar minumannya tadi kemudian pergi meninggalakan teman-temannya.

     “cit…Citaaa tunggu.” Tia buru-buru menghabiskan minuman dan makanan begitu pula dengan deah. Mereka segera ke kasir membayar makanan dan minuman selanjutnya mengejar cita yang berjalan udah lumayan jauh.

     “Kok kamu jadi marah gini sih, tadi kan kita berdua hanya bercanda.”  Deah mencoba menghibur cita dengan kata-katanya. Sedangkan cita tidak menghiraukan kata-kata deah dan tetep aja berjalan cepat. Dia berjalan terus menuju ruang olah raga untuk latihan basket namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Tia dan deah  yang berjalan di belakang di belakan menabrak secara tidak sengaja menabrak punggung dan kepalanya.

     “Aduh…sakit…” deah memegang kepalanya.

     “kalo mau berhenti jalan kasih tau dong…”celetuk tia sambil berajalan ke hadapan cita. Namun cita menghiraukan omongan tia sebab dia memandang sosok seorang cowok yang sudah di kenalnya sedang bermain basket dengan teman-temannya. Tia pun langsung mengikuti ke arah pandangan cita dengan membelokkan badannya kebelakang, dia mengerti kenapa tiba-tiba temannya berhenti berjalan.

     “Lhoo…bukannya itu Nate???kata bu Sandra dia latihan di kampusnya trus kenapa disini???” Tanya tia dengan heran.

     “Mana ada nate…kok aku nggak liat.” Mata deah mencari-cari setiap sudut.

     Tia bergeser ke deah yang berada di sebelah kanan cita dan berkata  “aduh deah…masa’ kamu ga liat badan segedhe nate yang nyoba basukin bola ke ring sebelah utara itu.” Tia menunjuk ke arah nate.

     “itu toh…iya…iya…aku liat.” Dengan pandangan tajam

     Tiba-tiba bola yang di pegang nate terlepas dari tangannnya dan menggelinding ke arah mereka sedangkan nate berusaha mengejar bola tersebut. Kemudian berhenti tepat di bawah kaki cita.

     “Hai…”sapa nate.

     Cita menunduk tuk mengambil bola tersebut dan menggembalikan ke nate tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nate tak lupa memasang senyumnya kemudian berkata        “makasih yaa…” Nate menerima bola tersebut kemudian kembali ke teman-temannya.

     “cit…kayaknya kamu jodoh ama nate, baru aja diomongin tiba-tiba…” tia belum selesai ngomong, cita langsung berjalan lagi ke arah teman se-teamnya berlatih basket. Mereka berdua berjalan ke tempat duduk penonton untuk menyaksikan latihan itu.

     “kenapa sikap cita tadi aneh soal nate. Padahal ini bukan pertama kali kita bercanda seperti ini? Apa mungkin cita jatuh cinta trus dia ga mau mengakuinya??/” kata deah dengan memperhatikan cita mendrible bola.

     “kok kamu nanya ke aku, lagian aku kan bukan cenayang yang tahu segalanya. Udah deh…nggak usah mikirin itu. Sekarang kamu perhatiin aja teman-teman nate yang nggak kalah cakepnya.” tia memandang cowok tersebut satu per satu.

     “Dasar cewek kegenitan…” tangan deah melayang ke kepala tia sambil sedikit mendorongnya.

     Disana cita dengan serius berlatih mendrible bola, berlarian kesana kemari dan kemudian memasukkan bola ke dalam keranjang. Kebahagiaan dan kesenangan terpancar dari wajahnya karena berhasil melakukan tembakan three point. Namun kebahagian itu terhenti dari wajahnya ketika tanpa sengaja memandang nate dari kejauhan, nate pun tanpa sengaja pula membalas pandangan dia dan tersenyum tipis. Tak terasa udah 3 jam lebih mereka berlatih  dan pelatih team meminta mereka berkumpul. Pelatih sedikit memberikan sedikit memberikan arahan kepada mereka.

     “saudara-saudara sekalian, hari ini adalah latihan kita yang terakhir. Saya berharap besok kita bisa melakukan pertandingan basket dengan baik. Kalah atau menang itu hal yang biasa tetapi kebersaman team yang perlu kita butuhkan. Ingat dan Jangan  lupa…kerjasama team lah yang besok kita butuhkan, ok!” Ungkap pelatih dengan tegas. Pelatih mengulurkan tangan kemudian diikuti oleh beberapa anak yang posisi tangan mereka berada diatas tangan pelatih. Dengan kompak mereka berkata “semangat!!!!!”

     Cita berjalan menuju tempat istirahat untuk mengambil handuk dan air minum. Diteguknya air tersebut sedikit demi sedikit sesekali dia membasuh keringat yang mengalir dipelipis wajahnya dengan handuk. Dari tadi  kepala dan matanya tidak berhenti-hentinya memandang nate yang masih saja berlatih basket. Seakan-akan kepala dan matanya ada yang mengarahkan untuk melihat nate padahal cita tidak menginginkan hal itu. Setiap dia memandang nate, dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat sambil menutup mata dan berkata dalam batinnya “nggak…nggak…nggak…nggak mungkin aku suka ama nate.” Hal itu dilakukan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak mungkin dia jatuh cinta. Setelah melihat cita selesai latihan, tia dan deah berjalan menghampirinya.

     “udah selesaikan latihannya, kita pulang yuuk…sebab tadi aku dapet telpon dari nyokap dan aku disuruh nganterin belanja.” Pinta deah sambil mainin rambutnya dengan jari telunjuknya.

     “bener, aku juga mau ke salon. Biasalah…manicure dan padicure gitu…” tambah Tia.

     “yo wis…kita pulang sekarang. Aku juga capek banget dan mau tidur bentar.”cita bergegas untuk mengambil tas kemudian beranjak pergi.

     “Cit…” tia menepuk punggung cita.

     “Apa?!!” kepala cita melihat kebelakang.

     “Ehhhmmm…kamu nggak ngucapin salam perpisahan dulu ke nate.” Ucap tia sambil memandang wajah cita tanpa berdosa sedikitpun. “kamu…” Cita hanya memandang tia dengan geram dan dia tidak bisa menahan amarahnya sehingga ingin sekali njitak kepala tia. “awas yaaaaaa…..” Namun, keinginannya sudah diketahui tia sehingga bisa diantisipasi dengan cara lari sekencang-kencangnya dan jangan sampai cita menangkapnya, bisa-bisa dia berubah menjadi daging cincang.

     Tak lama kemudian sampailah cita dirumah. “Assalammualaikum.”sapa cita ke pada ibunya yang sedang nonton tv di ruang keluarga. Sang ibu menjawab “Wa’alaikum salam, sore sekali pulangnya.” Cita terus aja berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya “abis latihan basket, bu.” Jawab cita kurang semangat. Mendengar ucapan anaknya yang kurang bersemangat, Ibunya langsung berdiri dan memutar badannya.

     “cita kamu kenapa??”Tanya ibu

     “nggak papa kok bu, Cuma capek aja.”

     Ibu berjalan mendekati anak tangga sambil melihat anaknya berjalan ke atas “tumben kamu langsung keatas, biasanya pulang kuliah langsung menuju ruang makan. Apa perlu ibu bawakan makanannya ke kamar kamu.”

     “ga usah deh bu, lagian masih kenyang. Cita mau tidur dulu.” Jawab  cita dengan nada sedikit tinggi. Cita langsung membanting badannya ke tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Walaupun memandang langit-langit kamar, pikirannya menuju ke hal lain. Cita teringat akan cara nate bermain basket mulai dari mendrible sampai memasukkan bola dengan lay up. Tak lupa, senyuman nate yang begitu manis dan bersahabat. Hal itu bisa membuat cewek lain pingsan. Sebab nggak Cuma di kampus nate aja para cewek berusaha ngedekatin, di kampus cita pun banyak cewek yang ngejar-ngejar dia. Maklumlah, dia kan anak ibu kantin yang baik hati. Cita masih aja memikirkan tingkah-laku nate yang pernah dia lihat, sampai-sampai dia ketawa-ketiwi sendiri.

     “ngapain sih aku ketawa sendiri yang nggak jelas maksudnya…ngapain juga aku mikirin nate segala, emang dia siapa.” Cita ngomong sendiri. “Kurang kerjaan aja.” Ucap cita tat kala tersadar dari berpikir “mending aku mikirin yayang Kevin Zegers.” Diraihnya foto Kevin yang berada di sebelah tempat tidurnya, “ya kan sayang…” sambil menciumi foto itu berulang kali. Setelah merasa puas kemudian cita beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, cita keluar kamar mandi lalu bercermin dan tak lupa menyisir rambutnya yang sebahu. Setelah itu dia menuju meja belajar, mengerjakan tugas-tugas. Cita membuka buku catatannya lembar demi lembar.

      Sebenarnya cita itu bisa di bilang mahasiswi yang daya intelektualnya cukup bagus tetapi yang membuatnya berbeda dengan mahasiswi yang lain yaitu sifat tomboy-nya. Cara berpakaian pun amat sangat sederhana, ke kampus Cuma pake kaos yang di lapisi dengan jaket, celana jeans, sepatu kets tak lupa pake tas punggung.

     Setelah menyelesaikan tugas, cita bergegas menuju tempat tidur. Sebagai anak yang baik, cita tak lupa berdoa terlebih dahulu sebelum tidur dan selalu membayang kan Kevin Zegers. Tetapi malam ini bukan Kevin yang ada di otaknya melainkan Nate, sampai-sampai dia bingung tidur harus menghadap kemana. Menghadap ke arah kanan nate ada dalam otaknya, menghadap kiri pun juga begitu apalagi tidur terlentang. Saking keselnya, mukanya ditutupi dengan bantal.

******

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s