Sebatas Mimpi Namun Berarti #3

“Tok….tok…tok…tok…”suara ketukan pintu dengan keras.

     “Cita…Banguun….kamu tahu ini jam berapa??!!!!” teriak-teriak seseorang dari balik pintu.

Sedangkan cita sendiri masih terlelap dengan tidurnya sehingga dia tidak mendengar teriakan orang tersebut.

     “Citaaaaaa……..”teriak dengan lantang lalu membuka pintu kamar cita yang tak terkunci. Disana didapati cita yang masih menikmati tidurnya.

     “Cita! Banguuuunnnn….” Sambil menarik selimutnya.

     “Aduh mama…ganggu aja sih, lagian inikan hari minggu. Aku capek ma…abis tanding basket kemarin.” Komentar cita dengan menarik kembali selimutnya.

     “Mama…..mama….kapan aku nikah sama papa mu, citaaaa….” Orang tersebut menarik selimut cita dengan sekuat tenaga sehingga mereka tarik menarik. Karena tenaga orang tersebut begitu kuat, cita pun jatuh dari tempat tidurnya.

     “Awwww…..” keluh cita kesakitan dengan memegang pantatnya. “ mama…gimana sich, akukanmasih capek dan inikanhaaa….”cita kaget dengan sosok seorang wanita yang umurnya tidak jauh dari dia.

     “Haaa apa!” bentak wanita itu

     “Hari minggu” jawab cita pelan “ka…ka…kamu siapa?” cita memandang wanita tersebut dengan penuh tanda Tanya.

     “Apa???!!!” wanit tersebut bngung dengan pertanyaan cita

     “aku dimana?” sambil melihat keadaan di sekelilingnya.

     “cita, kamu sadar nggak sich apa  yang kamu katakana tadi.”

Cita masih tampak terlihat bingung dengan kondisi yang ada disekelilingnya dimana semua tampak beda. Ruang kamar yang dia tiduri pun juga beda. Kemudain tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di benaknya. Dalam pikiran dia “aku in di mana…mana tempat ini asing lagi trus orang yang ada didepan ku ini juga bukan orang yang aku kenal. Jangan-jangan???aku di culik trus minta tebusan uang ke bokap ku. Aaaaa….gimana nich kalo memang itu benar-benar terjadi. Ooohhh…cita kamu harus tenang dan terlihat pemberani”

     “Eehhh…jangan-jangan kamu nyulik aku, iyakan? Jangan berharap dech dapet uang dari bokap ku, lagian bokap ku ga mungkin kasih tebusan ke kalian” menjaga jarak dan memasang tampang penuh kecurigaan dan sok pemberani. Sedangkan wanita itu tidak mengerti apa yang cita katakana.

     “kamu kenapa sich, kesambet?” wanita mendekat.

     “eeeit…”sambil mengambil patng kecil yang ada di dekatnya dan mengangkatnya, “jangan coba-coba mendekat yaa…kalo itu kamu lakukan bisa-bisa benda ini melayang ke kepala kamu.”

     “Aduh cit, aku ga tahu apa yang terjadi ama kamu, Pokoknya…yang penting sekarang kamu pake seragam kamu kemudian bantuin aku di dapur untuk nyiapin sarapan tuan besar dan keluarganya.” Wanita itu pun pergi keluar kamar.

     “nyiapin sarapan tuan besar dan keluarganya??? maksudnya apa sich…trus seragam…seragam apaan??? Seingat ku kalo kuliah nggak pernah pake seragam kayak anak sekolahan dech” Cita semakin bingung dengan apa yang terjadi. lalu dia menuju ke lemari baju dan di bukanya lemari itu. Cita semakin bingung dan terkejut dengan apa yang dia lihat dimana terdapat seragam pembantu yang tergantung disana.

       “Apa seragam ini yang di maksud wanita tadi yaa????” diambilnya seragam itu dari lemari, “jangan-jangan aku jadi pelayan di rumah ini??? Aaaaccchh….nggak mungkin….nggak mungkin…nggak mungkin” sambil geleng-geleng kepalanya. “Apa ortu aku udah nggak mampu lagi biayain aku kuliah jadi aku kerja di sini???aduh…pusing….pusing…”

Sesaat kemudian cita sudah memakai seragam pelayan dan bercermin di depan kaca. “lumayan juga ni seragam” lalu dia keluar kamar dan pergi menuju ke dapur namun dia tidak tahu arah dapur di mana sebab rumahnya besar sekali.

     “Gila ni rumah, gede banget sich. Ini rumah ato istana? Mana banyak pintunya lagi…aku penasaran…. siapakah orang yang tinggal disini? Yang pastinya miliuner.” Cita mengamati tiap sudut ruangan yang di penuhi dengan barang-barang mewah.

     “Woooww…inikanguci asli dari cina yang didiinginkan papa ku dan orang tertentu aja yang bisa memilikinya.” Cita memegang gici itu dengan perlahan-lahan.

     “Cit!!!! jangan di pegang, bisa-bisa tuan besar marah.” Teriak seseorang dan cita pun sedikit kaget dengan teriakan itu lalu dia membalikkan badan. Di lihatnya gadis seumuran dia yang ada dihadapannya. “Aduh ini siapa lagi?” piker cita.

     “kamu dari mana aja, bu Sandra ngomel terus tuch.”

     “Bu Sandra???siapa dia??” Tanya cita

     “jangan belaga ling-lung dech, bu Sandra…koki yang ada dirumah ini, orang yang bangunin kamu tadi. Masa’ kamu lupa sich.”

     “ooooohhhh…wanita itu. Iya, aku ingat.” Ungkap cita sok tahu, “Trus…kamu pembantu juga disini??nama kamu siapa? Aku cita.” cita mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar sebagai tanda perkenalan.

     “Kamu ngomong apaan sich, aku nggak ngerti. Akukantemen sekamar kamu, jenifer. Udah aahh…sekarang kamu harus ke dapur sekarang juga sebelum bu Sandra marah-marah besar sama kamu.” Ditariknya tangan cita dan pergi ke dapur.

     Suasana di dapur begitu sibuk, tampak bu sandra menata makanan yang akan di hidangkan. Sedangkan cita tertegun dengan apa yang dilihat sebab selama dia hidup, mamanya tidak pernah mengajarkan dia memasak di dapur. Minum aja dibuatkan oleh pembantunya sedangkan sekarang dia harus membuat makanan dan minuman untuk majikannya.

     “Cita!!!!apa yang kamu lihat…Ayo, bantu aku sekarang” bentak bu sandra kencang sampai-sampai cita terbangun dari lamunannya.

Cita pun langsung berjalan menuju bu sandra.

     “Tuangkan minuman ini di gelas dan jangan lupa kasih hiasan jeruk lemon yang diiris di pinggrir gelas, ngerti!” perintah bu sandra. Cita hanya menganguk tanpa berkata apa-apa.

Beberapa menit kemudian makanan sudah siap disajikan di meja makan utama. Seluruh pelayan rumah membawa makanan tersebut. Diatas meja tersedia bebagai macam makanan, mulai dari makanan traditional sampai makanan barat.

     “gila….banyak banget makanan yang dihidangkan di meja makan. Apa tuan rumahnya doyan makan yach????kalo iya pasti orangnya ndut-ndut. Kalo nggak, pasti keluarganya banyak.” Ungkap cita dalam batinnya.

     Beberapa saat kemudian, terdapat tiga orang yang sedang menuruni tangga. Cita pun sudah bisa menerka siapa mereka. Yep bener banget, mereka adalah pemilik rumah ini.

     “Haaaa….Nggak salah, rumah segedhe ini yang tinggal disini Cuma 3 orang??? Padahal rumah ini kan cukup untuk orang sekampung. Kadang aku nggak ngerti deh ama orang kaya,

 Dari ketiga orang itu, tak satupun orang yang cita kenal. Mereka pun menuju kemeja makan dan siap menikmati makan pagi mereka.

     Cita pun pergi ke dapur, siapa tahu bu sandra memerlukan dia lagi. Ternyata setiba di dapur tidak ada sapa-sapa kecuali jenifer yang sedang memberekan panci-panci yang telah dipakai untuk memasak.

     “Hai…” sapa cita, “aku bantu yaa…”

     “boleh” jawab jenifer.

     “Aku heran dech, disinikan Cuma ada tiga anggota keluarga, kenapa masaknya banyak banget???apa setelah mereka tidak mengabiskan makanan mereka, para pembantu di suruh mengahabiskannya???”

     “ kamu ngomong apaan sih cit, aku ga ngerti.” Jenifer heran dan bingung dengan perkataan cita.

     “jenifer….aku ngomong serius”

     jenifer memegang dahi cita dengan tanganya. Seperti seorang ibu yang ingin tahu apakah anaknya kena demam ato tidak.

     “Apaan sih, aku sehat lagi” di lepaskannya tangan jenifer dari dahinya.

     “Yang heran itu bukan kamu tapi aku” ungkap jenifer.

     “emang heran kenapa??” ungkap cita tanpa merdosa.

     “ mulai dari bangun tidur tadi, kamu seakan berada di suatu tempat yang baru pertama kamu kunjungi. Seakan-akan kamu baru pertama kali kesini.”

     “lho….emang aku baru pertama kali kesini. Kalo kamu tadi nggak nyebutin nama mana mungkin aku tahu namamu” jawab Cita

     “Apaaa!!!” Jenifer memandangi wajah cita dengan heran. “hari ini kamu bener-bener aneh dan kayaknya aku nggak kenal siapa kamu??”

     “lohh….kamukanemang nggak kenal aku dan aku juga nggak kenal siapa kamu” jawab cita dengan polos.

     “cukup!!!!!!!aku dah capek dan bener-bener nggak ngerti apa yang kamu omongin” jenifer pun pergi ninggalin cita sendirian di dapur.

     Cita pun termenung dan bicara sendiri dalam  hati. “sebenernya aku ada dimana sih? Kenapa semua orang disini mengenal siapa aku sedangkan aku tidak mengenal siapa mereka? Sebenarnya apa yang sudah terjadi?Banyak sekali pertanyaan yang ada di kepalaku dan aku nggak tau kapan aku mendapatkan semua jawaban ini. Apa yang harus aku lakukan?” cita berfikir dengan tatapan mata yang kosong. Tiba-tiba aja di apunya ide cemerlang yang ada dipikirannya “tidur lagi aja biar semuanya menjadi normal kembali dan aku nggak jadi pelayan, lagian inikan cuma mimpi, iya…..ini Cuma mimpi….mimpi….mimpi dan mimpi. Untuk membuktikannya, aku akan nyubit pipiku, kalau aku ngerasa sakit ini berarti bukan mimpi tapi bila aku nggak ngerasa sakit sedikit pun berarti ini benar-benar mimpi hehehe…..cita emang bener-bener pintar (memuji dirinya sendiri). Oke…..aku akan mulai nyubit pipiku dalam hitungan tiga, satu……dua…..tiga………”cita menyubit pipinya dengan keras dan kemudian “aaaaaaauuuuuuuuuu……….sakit….sakit….sakit…..sakit……..” cita menjerit kesakitan “sakit banget, kok bisa sakit banget ya? Aaaaaa………nggak mungkin….nggak mungkin………nggak mungkin kalo ini bener-bener nyata. Mama………papa…….aku ingin pulang, aku nggak mau ada disini. Aku ingin kumpul bareng kalian. Tuhan……sebenernya apa yang sedang terjadi?” cita ngomong sendiri dan sedikit meneteskan air mata.

     Cita masih termangu menatap pemandangan diluar jendela dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi dan melamun “apa mungkin selama ini aku bermimpi indah dan berkumpul dengan keluarga? Terus.. soal nate gimana??” cita berhenti melamun dan menepuk-nepuk pipinya “haduhhh…… kok jadi memusingkan gini sih. Okelah.. kalo memang seperti ini keadaannya aku akan menjalani hidup ini” ungkap cita penuh dengan semangat. “Tapiiii…. Kok jadi pembokat gini yaaa…. Huaaaaahaaaa…. L” tiba-tiba cita punya pemikiran yang konyol *tuing* “ahaaaa.. sapa tau disini ada cowok cakep bisa dibilang pangeran impian. Kikikikik…..” cita mengikik “eeeeehhhhh….. emang ada cowok cakep disini???” cita ngomong-ngomong sendiri tanpa menyadari kehadiran Jenifer dibelakangnya dan menepuk pundak Cita.

     “Arggghhh!!!” Cita terkaget dan berbalik badan.

     “kamu bener-bener gila yaa… aku perhatiin dari tadi ngomong-ngomong sendiri kayak orang gila, kamu kenapa sih cita?? Sehabis bangun tidur kamu berubah, bukan cita yang aku kenal dulu” cerocos Jenifer.

     “emang… Cita yang kamu kenal gimana?” Tanya Jenifer.

     “Apa?!!” Tanya Jenifer dengan muka aneh.

     “heeeee…..” cita nyengir “eeeehhh.. ga jadi deh… bukan apa-apa” Cita langsung berlalu sambil nyamber serbet dan berlalu keluar.

     “Cita!! Kamu mau kemana?”

     “mau bersihin kaca depan, keliatannya kotor!” teriak cita sambil berlari menuju halaman depan

     “huh?? Bersihin kaca?? Ga salah tuh anak… dia kan anti untuk bersihin kaca?? Pasti ada aja alas an-alasan yang aneh jika disuruh bersih-bersih kaca.” Pikir Jenifer sambil garuk-garuk kepala “tuh anak emang bener-bener aneh” ceriwis Jenifer.

 ******

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s