Suku Tengger

Tiap kali aku guiding ke Bromo, Kebanyakan dari turis-turis berkata “they are like Mongolian” aku cuma bisa pasang muka penuh dengan tanda tanya, dalam hati pun berkata “Iya kah??’ aku juga belum pernah ke mongolia, wajar donk tidak tahu secara langsung. Setelah aku browsing di Internet mencari persamaan dari orang Tengger dan orang Mongolia. ternyata emang hampir mirip antara orang Tengger dan orang Mongolia. dari segi fisik, mereka hampir sama yaitu dari tinggi tubuh, mata agak sipit, warna kulit dan pipi memerah jika terkena suhu dingin.

Suku Tengger merupakan suku yang tinggal di kawasan gunung Bromo baik di daerah Tosari (Kab. Pasuruan), Ngadisari (Kab. Probolinggo), Ranupane (Kab. Lumajan) dan  Ngadas (Kab. Malang). Secara fisik, mereka memiliki ciri khas tersendiri. Ciri-ciri adalah memakai sepatu boot, sarung dililitkan di leher, serta penutup kepala biasa disebut “kupluk”. Alasan mereka memakai pakaian seperti itu karena kondisi alam dimana mereka tinggal begitu tinggi dan dingin. memakai boot karena mayoritas dari penduduknya adalah sebagai Petani jadi bisa memudahkan mereka berjalan di pematang ladang. Kain sarung sudah menjadi tradisi harus dipakai oleh masyarakat tengger untuk menghangatkan badan, meskipun kain sarung lumayan tipis. Sedangkan Kupluk sebagai pelindung kepala dari embun dan udara dingin apabila memulai aktifitas di pagi atau siang hari.

Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger.
Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.

Unsur-Unsur Kebudayaan

  • Bahasa

Suku Tengger merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas sehingga hal itu menjadikan sebagai ciri khas tersendiri. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya. Bahasa yang di gunakan sebagai alat komunikasi adalah Bahasa Jawa Tengger yakni Bahasa Jawa Kuno diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit, Contoh “Nanak Picis e” artinya tidak punya uang.

  • Pengetahuan

Saat ini perkembangan pendidikan bisa dilihat dengan berdirinya sekolah sekolah baik dari tingkat dasar sampai menengah. Meskipun secara lokasi sangat jauh dari kerabaikan kota, mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

  • Teknologi

Wisatawan Mancanegara dan domestik memberikan pengaruh yang besar dalam berkembangnya teknologi yang ada di wilayah pegunungan Bromo.  Maksudnya, dalam hal komunikasi masyarakat Tengger sudah mengenal telephon genggam (Hp). Teknologi transportasi seperti mobil, pick-up dan motor untuk pergi ke ladang. Dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi bisa memudahkan mereka dalam menjalani aktivitas. Namun dalam hal bercocok tanam mereka masih menggunakan alat-alat secara tradional seperti cangkul. Bagi yang tidak memiliki kendaraan sendiri, mereka berjalan kaki sejauh 1-2 Km dari rumah menuju ladang. Bisa dibilang, Masyarakat tengger tidak ada yang terkena Obesitas. sebab mereka memiliki pola hidup sehat.

  • Agama

Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasono. Selain Kasodo, upacara lain yaitu upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga. Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.

  • Perkawinan

Sebelum ada Undang-Undang perkawinan banyak anak-anak suku Tengger yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami. Adat perkawinan yang diterapkan oleh siuku Tengger tidak berbeda jauh dengan adat perkawinan orang Jawa hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali keluarga adalah dukun Pandita. Adat menetap setelah menikah adalah neolokal, yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di lingkungan yang baru. Untuk sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu dilingkungan kerabat istri.

  •  Sistem Kekerabaran & Kemasyarakatan

Seperti orang Jawa lainnya, orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yaitu garis keturunan pihak ayah dan ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak.

Masyarakat suku Tengger terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing kelompok tersebut dipimpin oleh tetua. Dan seluruh perkampungan ini dipimpin oleh seorang kepala adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di wilayah mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa menjadi warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat muslim Tengger biasanya tinggal di desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal didesa-desa yang ada di atasnya.

  • Mata Pencaharian

Masyarakat Tengger mendapatkan penghasilan untuk hidup dari bekerja di Ladang baik itu ladang mereka sendiri maupun menyewa kepada Balai Taman Nasional Tengger semeru. Pada masa kini masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Jagung adalah makanan pokok suku Tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan. Juga menawarkan penyewaan Jeep untuk menuju view point dan Gunung Bromo.

  • Nilai-Nilai Budaya

Orang Tengger sangat dihormati oleh masyarakat Tengger karena mereka selalu hidup rukun, sederahana, dan jujur serta cinta damai. Orang Tenggr suka bekerja keras, ramah, dan takut berbuat jahat seperti mencuri karena mereka dibayangi adanya hukum karma apabila mencuri barang orang lain maka akan datang balasan yaitu hartanya akan hilang lebih banyak lagi. Orang Tengger dangat menghormati Dukun dan Tetua adat mereka.

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa Masyarakat tengger sangat memegang teguh akan adat/tradisi mereka di zaman yang sudah moderen ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s